|
KAMUKA PARWATA FAKULTAS
TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
|
|
Anda Pengunjung ke:
|
SEJARAH DAN LATAR BELAKANG Sekitar tahun 1967,masa-masa demonstrasi telah surut. para mahasiswa telah kembali kuliah di kampus. Namun gelegak semangat masih sering menggeliat. sementara kegiatan kuliah mulai mendera. Dalam suasana semacam itu sekelompok mahasiswa di Fakultas Teknik UI membentuk suatu kelompok belajar bersama sekaligus ber-rekreasi bersama. Kelompok ini dinamakan YEXASTUFA (Yellow Xappa Student Family) yang juga sering diikuti oleh beberapa mahasiswa di luar FTUI. Mereka adalah para mahasiswa yang mempunyai hobi melakukan kegiatan di alam bebas. Saat itu di masing-masing fakultas terdapat kelompok-kelompok serupa seperti Mapala PRADNYA PARAMITHA di Fakultas Sastra UI,IMPALA FPsy, CATAC FEUI, CAT FKUI, serta kelompok-kelompok kecil di Fisip UI, FHUI dan FMIPA UI. Di tahun 1970 kelompok-kelompok tersebut dihimpun dalam suatu wadah dengan nama MAPALA UI pada suatu kegiatan yang dinamakan JAMBORE UI-I yang disponsori oleh YEXASTUFA. pada perkembangan selanjutnya karena perbedaan sistem kurikulum dan jam-jam studi mengakibatkan mahasiswa FTUI yang tergabung dalam YEXASTUFA tidak dapat berperan aktif dalam Mapala UI. Meskipun demikian, sekelompok mahasiswa FTUI yang masih muda-muda terus melakukan kegiatan pendakian gunung. "saat itu kita harus jalan kaki dari pinggir jalan raya Cimacan sampai ke puncak Gunung Gede dan Pangrango" ,kenang Ir. Marulam Simbolon. Maklum, jalan setapak di kedua gunung belum bisa dibilang tol seperti sekarang. Saat itupun ransel yang harus dipanggul berupa kantung parasit yang dimodifikasi. "sepatunya sepatu bot ABRI", tambahnya lagi. Pernah juga pada tahun 1971, YEXASTUFA mengadakan perkemahan mahasiswa FTUI di pulau air. Dalam perjalanan beberapa mahasiswa menemukan seekor kura-kura yang "melaporkan diri" agar dapat dijadikan lambang klub pencinta alam di FTUI. Dalam Jambore UI di lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango tahun 1972 yang juga diikuti oleh mahasiswa FTUI, terjadi perselisihan antara mahasiswa FTUI dengan panitia pelaksana Jambore karena penolakan panitia atas kedatangan mahasiswa teknik. Berhubung tidak sinkronnya kurikulum dan waktu libur antara FTUI dengan fakultas-fakultas lainnya, maka praktis mahasiswa FTUI tidak banyak berperan dalam wadah yang baru terbentuk ini. Selain itu masalah administrasi dan birokrasi kampus yang kurang harmonis menyebabkan mahasiswa FTUI mencari alternatif lain dengan melepaskan diri dari Mapala UI. Hal inilah sesungguhnya yang melahirkan KAPA FTUI pada tanggal 18 Oktober 1972. Widianto dan teman-teman lainnya menginginkan semua mahasiswa FTUI yang menggemari kegiatan di alam bebas dapat bergabung dalam suatu kelompok pencinta alam, tanpa harus menjadi pendaki atau penjelajah yang tangguh, para mahasiswa kelak dapat menjadi mahasiswa yang paripurna. Disponsori oleh eksponen Yexastufa seperti Djoko Hartono, Pinten, Sinta Pasaribu, Jos Luhukay, Tumbur Tobing, Ide SR, John Igig, Sunarya, dan Arman Djohan, maka dalam pertemuan di rumah Martin Djamin, berdirilah KAMUKA PARWATA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA disingkat KAPA FTUI, sebagai perhimpunan mahasiswa pencinta alam di lingkungan FTUI. Dan seperti nilai ideal yang ingin diembannya, KAPA FTUI memang sangat terbuka bagi segenap mahasiswa FTUI yang menyenangi kegiatan di alam bebas. Siapa yang ingin bergabung akan diterima dengan tangan terbuka. Itulah yang kemudian melahirkan kredo terkenal di KAPA FTUI : "Setiap mahasiswa FTUI adalah anggota KAPA FTUI yang belum dilantik " artinya setiap mahasiswa dapat bergabung dengan KAPA FTUI setelah mengikuti acara pelantikan. KAMUKA PARWATA berasal dari bahasa Sansekerta, Kamuka berarti jatuh cinta dan Parwata berarti gunung. Secara luas Kamuka Parwata bermakna "Mencintai alam dengan segala aspek yang terkandung di dalamnya". Dalam acara Gladian III pertemuan Pencinta Alam se-Indonesia, Januari 1973, di pantai Carita Jawa Barat untuk pertama kalinya KAPA FTUI mengirim wakilnya sambil memperkenalkan telah terbentuknya KAPA FTUI. Pada tahun ini pula KAPA FTUI mendapat undangan dari Wanadri untuk meninjau SPGI - I Wanadri dimana terjadi proses kekeliruan dalam proses pendaftarannya, sehingga akhirnya wakil yang dikirim KAPA FTUI tidak hanya sebagai peninjau tetapi sebagai peserta dalam acara tersebut. Karena itulah maka Widianto Wiryaatmadja(Alm), Yasri Ilyas, Benny Pangkerego, Bastian, Marulam dan Iqbal Asaat mengikuti pendidikan Sekolah Pendaki Gunung Indonesia Pertama yang diadakan oleh Wanadri. Pendidikan ini setara dengan pendidikan dasar untuk menjadi anggota Wanadri. Kerasnya bisa dibayangkan karena para mentornya adalah mereka yang dididik langsung oleh RPKAD. "kalau tidak salah, Widianto saat itu terpilih sebagai siswa teladan!", kenang Ir.Benny Pangkerego. Pada saat itu, "pandawa Lima Plus Kresna (bisa juga Dorna)" ini diajak untuk bergabung dengan wanadri tetapi kecintaan mereka kepada KAPA FTUI menyebabkan mereka menolak ajakan tersebut dan bersama anggota KAPA FTUI yang lainnya mereka terus memajukan KAPA FTUI. Menyadari beratnya tantangan yang harus dihadapi, dan terbatasnya sumber daya yang dimiliki, para pendiri KAPA FTUI kemudian membagi keanggotaan, sebagai anggota biasa dan anggota inti. Ini disebabkan karena perlu tersedianya suatu kelompok yang betul-betul punya komitmen, untuk menjaga kelangsungan hidup KAPA FTUI. Anggota inti diseleksi dari anggota biasa yang benar-benar menunjukkan kepedulian terhadap kegiatan organisasi dan memiliki ketangguhan dalam kegiatan gunung hutan maupun dalam organisasi. Mereka harus mendapat rekomendasi dari anggota inti dan harus melewati ujian gunung hutan yang cukup keras. Dengan cara semacam ini, maka KAPA FTUI tetap dapat memiliki suatu pasukan khusus yang dapat diandalkan dalam menjaga kelangsungan hidup oraganisasi. Perjalanan waktu kemudian juga menuntut peningkatan terhadap anggota biasa. Untuk memenuhi hal tersebut maka sejak tahun 1976 pendidikan dasar mulai diperkenalkan. Ini membuat seluruh anggota KAPA FTUI memiliki kemampuan standar dalam kegiatan pencinta alam. Sementara itu KAPA FTUI sudah mulai peduli terhadap masalah-masalah lingkungan hidup yang ada, sekalipun pada saat itu isu lingkungan hidup belum menjadi masalah yang global seperti sekarang ini. Hal ini dapat terlihat dari beberapa kegiatan lingkungan hidup yang dilakukan, seperti tampaknya anti polusi udara,memasyarakatkan kegiatan sepeda sebagai alat transportasi, pameran lingkungan hidup hingga pembuatan pompa hemat energi.(Dari Buku Duapuluh Dua Tahun KAPA FTUI, Jejak Langkah Sang Kura-kura) |
|
Sekretariat: Gedung Pusgiwa Lt.2 Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kampus Baru Depok 16424 email : [email protected] milis : [email protected] dan [email protected] Copyright @KAPA FTUI last edited Saturday, 21 May 2005 13:48:56 |